Jumat, 14 September 2012

Fatamorgana, Halusinasi, & Delusi Dalam Trading


Artikel kali ini membawa kita bersama untuk belajar gangguan kejiwaan yang sering timbul saat melakukan trading.
Meskipun kita semua memiliki mental yang normal dan tidak memiliki masalah dengan kejiwaan (semoga saja demikian ).
Tetapi tanpa disadari oleh kita semua terkadang saat melakukan trading dapat membuat timbulnya gangguan kejiwaan.
Terdapat 3 buah gangguan kejiwaan yang dapat timbul saat melakukan trading yaitu
  • Fatamorgana
  • Halusinasi
  • Delusi


Halusinasi dan delusi termasuk dalam penyakit kejiwaan, sedangkan fatamorgana tidak digolongkan sebagai penyakit kejiwaan.
Meskipun fatamorgana bukan termasuk gangguan kejiwaan tetapi dalam artikel ini sengaja dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan yang sering terjadi saat melakukan trading dikarenakan mengakibatkan kita semua melihat hal yang salah, sehingga berdampak melakukan tindakan yang juga salah.

Halusinasi dan delusi disebabkan oleh faktor internal dalam diri kita, sedangkan fatamorgana disebabkan oleh faktor eksternal.
Definisi fatamorgana adalah pembiasan cahaya melalui kepadatan yang berbeda, sehingga bisa membuat sesuatu yang tidak ada menjadi seolah ada (Wikipedia).

Fatamorgana seringkali dijumpai di gurun pasir, dimana fatamorgana menyerupai danau atau air atau kota, yang sebenarnya adalah sesuatu yang semu atau tidak nyata. Meskipun demikian, fatamorgana ini tidaklah hanya terjadi di gurun pasir. Dengan makin berkembangnya zaman, prinsip dasar fatamorgana ini kemudian digunakan di berbagai bidang dalam rangka menciptakan sesuatu yang semu untuk menarik perhatian. Fatamorgana yang terjadi saat ini dapat disebut dengan istilah pencitraan.

Salah satu yang menggunakan prinsip dasar fatamorgana adalah iklan, yang bertujuan menciptakan persepsi semu seolah-olah produk yang diiklankan baik dan hebat guna menarik minat banyak orang untuk membelinya. Padahal dalam kenyataannya produk tersebut belum tentu sebaik, seenak, sesehat, atau sehebat yang diiklankannya. Contoh lain lagi adalah saat pilkada dimana masing-masing calon berlomba-lomba menciptakan fatamorgana atau pencitraan agar makin banyak orang memilih dirinya. Saat berlangsung pilkada, para calon berlomba-lomba membagikan sembako gratis, memberikan pelayanan kesehatan gratis, berdialog dengan para penduduk, seolah-olah sangat baik hati, sangat peduli, dan sangat bersimpati. Padahal nantinya setelah terpilih, belum tentu mau repot-repot seperti halnya saat pilkada. Itulah fatamorgana yang banyak terjadi disekeliling kita.

Sengaja diciptakan oleh pihak lain agar kita semua melihat sesuatu yang semu, yang biasanya cenderung indah-indah, dengan tujuan untuk menarik perhatian banyak orang agar kepentingan tertentu dapat tercapai. Padahal kenyataan nantinya belum tentu seindah itu.
Pada umumnya, fatamorgana atau pencitraan dilakukan bila kondisi sebenarnya tidak sesuai. Berpura-pura kaya padahal sebenarnya miskin, berlagak pintar padahal sebenarnya bodoh, mengatakan profit melulu padahal sebenarnya loss melulu, dsb. Bila kondisi sebenarnya tidak bermasalah, tentunya tidak perlu pusing dan repot harus mencitrakan diri berlawanan dengan yang sebenarnya. Toh tampil seperti apapun semua orang akan tetap menghargainya.

Seperti halnya pilkada, terdapat calon yang lain daripada yang lain. Kalau yang lain sibuk dengan membagikan sembako gratis, memberikan pelayanan kesehatan gratis, dan segala macam gratis lainnya, tetapi dia sendiri justru dengan santainya tidak membagikan apapun. Yang dilakukannya hanyalah sekedar berdialog dengan warga. Si calon ini tidak pusing-pusing mencitrakan dirinya, dia tampil apa adanya karena berkeyakinan memang dirinya baik dan bersedia bekerja keras untuk warganya. Buat apa repot-repot membagikan segala hal yang gratis (yang dananya tidak jelas darimana) kalau hanyalah sekedar pembohongan belaka.
Dalam dunia trading pun sama saja, banyak sekali fatamorgana.

Penjual indikator atau robot yang mengatakan bahwa produknya tidak pernah loss, pembicara seminar atau workshop trading yang mengatakan bahwa trading itu mudah dan dapat mebuat kaya raya dengan cepat, broker yang mengatakan bahwa tidak pernah curang, trader yang mengaku-aku bahwa dirinya selalu profit melulu dan tidak pernah mengalami loss, dan masih banyak hal lainnya.
Fatamorgana inilah yang akhirnya membuat timbulnya gangguan jiwa berupa timbulnya pemikiran atau persepsi salah pada yang masih awam.

Akhirnya yang masih awam memiliki persepsi salah yaitu trading itu mudah, cepat membuat kaya raya, mempercayai broker curang, meyakini teknik trading yang salah, loss adalah hal yang memalukan sehingga tidak digunakan SL, dan masih banyak lagi.
Oleh karenanya, selalu waspadai hal-hal yang terlalu indah dan tidak membumi. Karena biasanya hanyalah sekedar fatamorgana atau gombal belaka.

Musuh utama fatamorgana adalah waktu.
Seperti halnya fatamorgana di gurun pasir, bila melihat danau atau air atau kota, maka yang dilakukan cukup duduk saja dan tunggu. Fatamorgana hanyalah sekedar pantulan cahaya, dengan menunggu maka matahari pun akan bergeser sudut pantulnya sehingga fatamorgana tersebut hilang dengan sendirinya.

Demikian pula dengan fatamorgana yang terjadi disekeliling kita, musuhnya sama saja yaitu waktu. Kalau sekedar fatamorgana, maka dari waktu ke waktu akan seringkali timbul inkosistensi dan perlahan-lahan akan menghilang dengan sendirinya. Tetapi kalau bukan fatamorgana maka dari waktu ke waktu akan selalu konsisten. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang tiba-tiba sangat baik kepada diri kita, yang biasanya dikarenakan terdapat udang dibalik batu. Perhatikan saja, paling tidak lama dan nantinya akan menghilang sendiri. Atau seseorang yang saat awal bekerja sangat rajin padahal karakter aslinya malas, paling hanya rajin selama 3 bulan saja dan setelah itu balik lagi ke karakter aslinya.

Singkat kata, tidak ada yang mampu bersandiwara terus menerus, cepat atau lambat aslinya akan muncul Seperti kata pepatah “loyang meskipun disimpan di lemari tetap loyang, emas meskipun terbenam dalam lumpur tetap emas” Loyang meskipun tersimpan dalam lemari bersepuh emas, tetap saja sikapnya seperti loyang meskipun awalnya berpura-pura seperti emas. Sedangkan emas, meskipun disia-siakan, tetapi kemilau sinarnya tetap tak lekang ditempa waktu. Itulah fatamorgana, sang waktu yang akan membuktikannya sendiri.
Definisi halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Contoh dari fenomena ini adalah dimana seseorang mengalami gangguan penglihatan, dimana ia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama. (Wikipedia)

Halusinasi biasanya timbul bila terdapat tekanan mental yang berlebihan. Contohnya adalah rasa takut yang teramat sangat sehingga sekedar kilas lampu saja menjadi dilihatnya seolah-olah hantu. Padahal orang lain tidak melihat apapun. Sedangkan definisi Delusi adalah suatu keyakinan yang dipegang secara kuat namun tidak akurat, yang terus ada walaupun bukti menunjukkan hal tersebut tidak memiliki dasar dalam realitas. Delusi menyudutkan seseorang untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. (Wikipedia)
Delusi atau pikiran aneh-aneh diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti (Psikomedia).
Beberapa macam tipe delusi (Psikomedia):

  • Delusion of erotomanic
    •  mempercayai seseorang mempunyai kedudukan penting dan terlibat percintaan dengannya.
  • Delusion of grandiose
    •  mempercayai bahwa ia mempunyai pengetahuan yang lebih, bakat, insight, kekuatan, kepercayaan orang, atau mempunyai hubungan khusus dengan orang terkenal bahkan Tuhan.
  • Delusion of jealous
    •  mempercayai bahwa pasangannya berselingkuh atau tidak dapat dipercaya.
  • Delusion of persecutory
    •  mempercayai bahwa dirinya ditipu, dimata-matai, diikuti, difitnah dan tidak mempercayai orang lain.
  • Delusion of somatic
    •  mempercayai bahwa tubuhnya merasakan sensasi sesuatu atau merasakan salah satu dari bagian organ tubuhnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
  • Tipe campuran
    •  mempunyai delusi lebih dari satu tema.
  • Tipe tidak terdefinisi
    •  bila tidak termasuk didalam kategori yang ada diatas; atau tipe lainnya yang berkaitan dengan budaya setempat.


Delusi yang sering kali dijumpai dalam trading adalah tipe grandiose, yaitu merasa lebih hebat daripada market. Sehingga meskipun mengalami floating loss besar pun tetap saja cuek dikarenakan berkeyakinan bahwa market akan sesuai dengan prediksinya dan trend akan kembali balik arah. Masih mending kalau delusinya hanya seperti itu, coba kalau delusinya mengaku-aku punya hubungan khusus dengan Tuhan seperti halnya Nabi karena lebih banyak beramal dan bersedekah daripada kita semua sehingga yang dikatakannya selalu profit melulu, gerak candle besok pun sudah tahu dari sekarang. Padahal, mengalami loss adalah hal yang wajar terjadi dalam trading. Seperti halnya dalam dunia balap, mana ada pebalap yang tidak pernah mengalami kecelakaan berupa jatuh atau bertabrakan. (comment)

Coba saja perhatikan di televisi, mana pernah ada seorang pebalap dunia professional yang menyombongkan kalau dirinya tidak pernah jatuh atau bertabrakan. Lucunya, dalam dunia trading malah kebalikannya, banyak trader yang menyombongkan dirinya tidak pernah loss. Yang utama bukanlah tidak pernah jatuh atau bertabrakan, tetapi bagaimana menjadi nomor 1 saat mencapai finish.
Demikian pula dalam trading, yang utama bukanlah loss-nya, tetapi bagaimana caranya agar jumlah loss selalu lebih kecil daripada jumlah profit.

Loss adalah bagian dari trading, seperti halnya kecelakaan dalam dunia balap.
Yang harus diutamakan bukanlah untuk tidak pernah loss tetapi bagaimana caranya agar loss tersebut tidak menjadi hal yang fatal.
Lihat saja para pebalap dunia, memakai helm, baju tahan api, pengaman di bagian siku, dengkul, dan tulang belakang, tujuannya adalah untuk mengamankan diri agar tidak fatal saat kecelakaan. Dengan pengamanan seperti itu, mereka bukanlah bersiap untuk tidak celaka, tetapi sebaliknya, yaitu sangat siap andaikan celaka.

Masih ingat pebalap Ferrari Niki Lauda, yang pernah bertabrakan dan terbakar hebat. Meski wajahnya harus dioperasi plastik akibat luka bakar, tetap saja kembali melakukan balapan dan menjadi legenda dunia balap Formula 1. Pebalap sejati tidak pernah takut kecelakaan, lihat saja banyak contoh di televisi, sudah pernah celaka fatal nyaris mati, beberapa waktu kemudian setelah sembuh, balik lagi balapan seolah-olah tidak ada kapoknya.

Para pebalap tersebut sadar betul bahwa mengalami kecelakaan adalah hal yang sudah menyatu dalam dunia balap. Sehingga pengamanannya pun dimaksimalkan agar tidak berakibat fatal bila kecelakaan tidak dapat dihindari.
Dalam trading pun seharusnya demikian, amankan account dengan cara disiplin SL dan menggunakan money management yang bijak. Janganlah berpikir profit terlebih dahulu, tetapi berpikirlah seandainya mengalami celaka berupa loss.
Dengan penjelasan diatas, sekarang kita semua sudah paham apa itu fatamorgana, halusinasi, dan delusi.
Fatamorgana yang diciptakan oleh pihak lain yang sering kali terjadi dalam dunia trading sehingga menyebabkan timbulnya persepsi salah adalah sebagai berikut:

  • iming-iming cash bonus dari broker sehingga timbul anggapan bahwa broker tersebut baik
    •  padahal cash bonus tersebut hanyalah sekedar untuk menarik lebih banyak klien, brokernya sendiri belum tentu baik dan bisa saja sering berlaku curang yang mengakibatkan loss melulu
  • broker lokal lebih aman daripada broker luar
    •  padahal kebanyakan broker lokal perilakunya “sangat parah” dibandingkan broker luar
  • adanya introducing broker (IB) disini menjamin bahwa broker tersebut lebih aman daripada yang tidak memiliki
    •  padahal ada atau tidaknya IB tidaklah menjamin broker tersebut aman atau tidak dikarenakan IB hanyalah sekedar tenaga marketing belaka
  • penjual robot (EA) atau indikator atau eBook yang promosinya dapat membuat trading profit melulu
    •  padahal tujuannya agar banyak yang berminat membelinya
  • seminar atau workshop trading, cukup dengan 1-2 hari mengikuti seminar maka sudah bisa menjadi trader professional
    •  padahal diperlukan waktu tahunan untuk mengubah diri menjadi trader professional
  • SL tidak penting, toh nantinya harga balik arah lagi
    •  padahal tidak selamanya harga balik arah, bisa saja tidak balik-balik lagi
  • teknik Averaging Loss atau disebut juga dengan istilah Martingale dapat membuat profit melesat
    •  padahal justru teknik ini dapat membuat account langsung “tewas” akibat MC bila trend tidak segera balik arah
  • teknik Hedging dapat membuat account tetap aman dan profit terus menerus karena dilakukan Buy dan Sell sekaligus
    •  padahal Hedging malah membuat timbulnya masalah baru yang menambah keruwetan trading
  • dan masih banyak lagi hal lainnya 


Pada prinsipnya, fatamorgana adalah informasi menyesatkan yang sengaja diciptakan oleh pihak lain demi kepentingan tertentu.
Pernah saya baca di sebuah situs penjual EA yang mengatakan bahwa EA buatannya dijamin akan terus menerus profit sehingga tidak digunakan SL. Sengaja tidak digunakan SL dikarenakan tidak perlu khawatir dengan floating loss dikarenakan harga pasti balik lagi dan hasilnya pasti profit. Hal-hal seperti inilah yang akhirnya menyesatkan yang awam.
Akibat adanya penyesatan informasi maka akhirnya timbul persepsi yang salah, hal-hal salah yang akibatnya fatal justru dianggap lebih benar.

Halusinasi dalam trading biasanya karena adanya harapan berlebihan.
Contoh halusinasi:

  • jelas-jelas candle arahnya naik, tetapi yang dilakukan adalah Sell
  • jelas-jelas indikator masih berwarna hijau, tetapi yang dilakukan adalah Sell


Seperti telah dijelaskan pada definisi halusinasi diatas, rangsang nyata terhadap indera penglihatan menyatakan bahwa candle masih naik dan indikator pun masih berwarna hijau. Tetapi persepsi salah di otak melawan penglihatan, merasa bahwa sudah saatnya untuk melakukan Sell sehingga Sell pun dilakukannya.

Mata masih melihat warna hijau, tetapi persepsi di pikiran “memaksa” mengubah warna menjadi merah dan akhirnya melakukan Sell.
Bila dalam kondisi seperti ini, coba panggil orang lain, teman, pacar, atau bahkan pembantu di rumah, suruh mereka melihat warna indikator dan arah candle, tentunya mereka semua menyatakan arah candle masih naik dan warna indikator pun masih hijau.
Diri kita melihat “sesuatu” yang tidak dilihat oleh orang lain, atau disebut sebagai halusinasi.

Nah, dari penjelasan perihal halusinasi ini, terlihat betapa dahsyatnya pikiran dan persepsi mempengaruhi diri kita.
Sampai-sampai mengalahkan panca indera yang dimiliki maupun fakta yang ada di hadapan. Akibat adanya persepsi salah maka timbul halusinasi yang berlawanan dengan penerimaan indera yang dimiliki sehingga mengakibatkan keputusan dan tindakan yang dilakukan pun menjadi salah.

Lucunya, kalau sudah terjadi loss maka yang disalahkan adalah indikatornya yang tidak akurat atau brokernya yang curang.
Adanya harapan berlebihan yang mengakibatkan timbulnya halusinasi.
Harapannya adalah Sell yang terjadi, sehingga meskipun candle masih naik dan indikator masih berwarna hijau maka tetap nekad untuk melakukan Sell.
Sedangkan Delusi atau pikiran aneh-aneh biasanya terjadi saat:

  • floating profit
  • floating loss


Saat floating profit, timbul pikiran untuk segera exit. Padahal setelah exit dilakukan ternyata candle bergerak 100 pip.
Saat floating loss, timbul pikiran untuk TIDAK segera exit. Padahal akibat tidak segera exit ternyata candle bergerak 100 pip dan floating loss pun minusnya bertambah 100 pip.

Delusi dalam trading pada umumnya timbul akibat ketidaktahuan dan adanya harapan. Saat floating profit, karena tidak tahu gerak candle akan berbalik arah dimana, maka timbul pikiran untuk segera exit dikarenakan adanya harapan loss. Saat floating loss, karena tidak tahu gerak candle akan terus menerus kencang melawan entry, maka timbul pikiran untuk TIDAK segera exit karena adanya harapan profit. Itulah delusi yang terjadi saat melakukan trading.

Seperti telah dijelaskan diatas, waktu adalah musuh utama dari fatamorgana, halusinasi, maupun delusi.
Dengan memiliki pengalaman yang cukup maka fatamorgana, halusinasi, maupun delusi akan hilang dengan sendirinya sehingga panca indera lebih mengutamakan fakta yang ada dihadapan daripada persepsi.
Hanya saja, sebagai langkah awal, sebaiknya mulailah dari sekarang untuk belajar menghilangkan fatamorgana, halusinasi, maupun delusi.
Caranya mudah, yaitu :

  • menghilangkan fatamorgana, baca artikel-artikel yang ada di situs ini. Artikel-artikel yang ada di situs ini “membumi” menggambarkan dunia trading yang sebenarnya dan bukan “diawang-awang”
  • menghilangkan halusinasi, sebelum entry pastikan bahwa tidak sedang berhalusinasi, kalau indikator berwarna hijau maka lakukan Buy dan bukan Sell.
  • menghilangkan delusi, belajar menahan floating profit sampai benar-benar terjadi pembalikan arah trend dan sebaliknya belajar untuk segera exit bila jelas-jelas salah.


Pemikiran atau persepsi pengaruhnya sangat dahsyat dikarenakan membentuk keyakinan. Dengan keyakinan maka akan timbul kekuatan yang hebat.
Mengutip sebuah kalimat bijak:
“Kekuatan itu tidak terbina di atas bilangan yang ramai, tetapi kekuatan itu terbina di atas keyakinan dan optimis seseorang dan keserasian berkumpulan.”

Semoga dengan artikel ini maka kita semua dapat memiliki mental yang lebih sehat, yang tidak sering berhalusinasi atau berdelusi sendiri.

By Ahmad Zamani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar