Jumat, 15 Februari 2013

FOREX BUKAN MEJA KASINO




Saya senang sekali dengan kehadiran kakek Green Heart di basecamp Cafe Trader ini. Teman-teman nongkrong di basecamp  juga kelihatan sudah mulai akrab dengan beliau. Hanya saja hari ini, ada raut wajah sedih padanya. Ada apa ya?

“Ada apa Kek? Apakah sudah tidak betah di sini? Ataukah ada kesalahan yang telah saya buat?” tanya saya pada beliau.

“Bukan begitu, Nak Ninjaa. Baru saja saya ngobrol sama temen-temen, mereka curhat kalau dalam bulan ini mereka telah alami hari yang buruk. Mereka telah alami loss besar, bahkan diantara mereka ada duit investor. Hemm... Ada yang belum berani pulang ke rumah. Bagaimana saya tidak turut prihatin, Nak Ninjaa...” kata kakek Green Heart mulai menceritakan kejadian yang  dialami sebagian teman-teman di basecamp.

“Ya, begitulah Kek. Di basecamp ini, banyak teman-teman trader yang bermasalah. Mereka kesini untuk ‘nyantri trading’ agar lebih baik cara tradingnya maupun menenangkan diri dari sekian masalah yang dihadapinya. Maka dari itu, kami  senang kalau Kakek tinggal lebih lama disini bersama kami. Maka kami mohon...!”

“Ya, akan saya usahakan. Lagi pula, gaji pensiun saya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara hasil trading bisa ditabung untuk keperluan mendadak hehehehe. Anak-anak juga sudah mandiri. Istriku sudah ditemani pembantu. Tidak masalah kalau saya ngumpul-ngumpul bersama teman-teman trader disini untuk beberapa hari,” kata Kakek Green setuju permohonanku.

“Menurut Kakek, apa yang terjadi sebenarnya pada mereka?” tanya saya berusaha untuk mendapatkan penjelasan dan analisa beliau.

“Saya melihat, beberapa diantara mereka memperlakukan pasar forex seperti kasino pribadi.  Mereka lebih memiliki mindset seorang penjudi daripada seorang pedagang. Trader yang gagal dalam membuat uang secara konsisten di pasar kebanyakan memiliki pola pikir penjudi, mereka tidak memiliki pola pikir yang profesional dan kebiasaan yang secara konsisten menguntungkan pedagang,“ jawab Kakek Green.

“Bagaimana Kakek  tahu jika seorang trader dalam pendekatan ke pasar dengan pola pikir penjudi  atau  bisnis?” tanya saya kemudian.

“Wah, pertanyaanmu jangan  yang sulit-sulit saya sudah tua, Nak Ninjaa? ”

“Hahahaha....! Oke, saya akan ganti pertanyaannya.  Bagaimana pedagang profesional berpikir dan bertindak terhadap pasar dan bagaimana pula jika seorang bermental penjudi?” tanya saya lagi. “Oh ya, mari kita bicara di luar saja Kek, di ruangan ini nanti malah dikira kita lagi pacaran hahahahaa…!” Saya ajak Kakek ngobrol di teras depan, sambil ngopi-ngopi, yang sudah disiapkan istri tercinta.  Hemmm…!

“Mari lanjutkan diskusi kita ini, Nak Ninjaa... Kita bicara tentang trader forex professional dulu. Menurut saya, untuk menjadi seorang trader forex profesional, kita harus memulai transisi dari watak penjudi menuju watak professional, transisi ini dimulai dalam pikiran kita dan kita harus bisa  mengarahkan dan menciptakan suatu realitas yang berbeda yang akan mencakup kebiasaan-kebiasaan perdagangan positif yang akan bekerja untuk memperkuat pola pikir  trader professional,” kata Kakek Green mengawali diskusi.

“Oh, bahasa Kakek  terlalu tinggi, cobalah buat saya mengerti,” kata saya  menyela.

”Hahahahaa….! Di dunia forex juga  banyak trader yang menggunakan filosopi ‘Kalau bisa mencari cara yang sulit mengapa harus mencari cara  yang mudah?’”

“Hahahaha...! Seperti saya dulu, Kek. Diajari cara trading yang mudah,  sepertinya otak menolak karena  kurang menarik dan tidak  keren. Padahal trading itu  untuk mencari profit, bukan mencari sensasional ya, Kek!”

“Begitulah pola pikir amatir hahahaha...! Apakah  kamu lebih suka berdagang karena dagangan itu keren tapi tak laku, atau memilih berdagang sesuatu yang probabilitasnya lebih banyak menguntungkan dan itu sederhana? Menurut saya, dalam rangka untuk mulai berpikir seperti seorang trader professional kita  harus berpikir tentang perdagangan sebagai sebuah bisnis, dan sama seperti bisnis apapun. Kita  harus memahami ada risiko yang terlibat; risiko nyata. Tugas kita itu yakni harus mencari cara untuk mengimbangi risiko ini,  yang tidak melibatkan kerugian yang begitu besar. Kalau kita tidak dapat menekan kelakuan ini, maka bisa saja kita tidak dapat menjalankan bisnis ini lagi. Dalam pikiran seorang trader forex professional, pengelolaan uang adalah cara untuk mengelola risiko. Memahami dan menerapkan strategi risiko adalah cara trader profesional mengkompensasi risiko yang terlibat dalam perdagangan apapun, dikombinasikan dengan kesabaran ketika memilih perdagangan. Apakah berjudi lebih menguntungkan daripada berdagang? Tentu saja tidak! Terburuk dari berjudi adalah tidak pernah mengelola risiko dan tidak pernah mengelola keuntungan. Maka ketika beruntung dengan kemenangan sekalipun, akhirnya akan habis juga.

Fakta bahwa trader profesional telah menguasai sistem maupun strategi forex trading mereka, berarti mereka sangat menekan bagaimana agar tidak kehilangan uang. Jika pun kehilangan uang pada suatu saat ketika transaksi, mereka menyadari bahwa saat itu belum rejeki mereka dan harus segera menahan diri atau menghentikan untuk bertransaksi berikutnya. Kemudian dilain waktu berusaha untuk  membuatnya profit kembali. Trader profesional benar-benar menyadari bahwa dia sedang berbisnis, bukan sedang berjudi. Trader profesional tahu apa yang akan mereka lakukan di pasar dan tahu apa yang dipersiapkan sebelumnya. Dengan kata lain, mereka memiliki rencana trading.  Kesabaran adalah  alat yang dipersiapkan olah seorang trader profesional setiap kali mereka berinteraksi dengan pasar. Sedang trader penjudi selalu mengambil posisi-posisi acak tanpa pemikiran dan analisa mendalam dan selalu gelap mata. Dan apa yang saya lihat dari kejadian teman-teman disini, adalah karena mereka tidak memperlakukan  forex sebagai bisnis. Ini jawaban saya Nak Ninjaa. Menurutmu saya sudah menggunakan bahasa yang mudah dipahamikah? “

“Hohohohooo… saya suka penjelasan Kakek.  Apalagi kata-kata ‘gelap mata’. Trader kalau sudah gelap mata, yang main adalah emosinya.  Dan betapa sulit untuk menghilangkannya. Terlebih saat  seorang trader melihat  transaksinya minus semakin bertambah, atau habis cut loss, maunya segera saat itu juga harus mengembalikan semua yang hilang.  Akhirnya menggunakan  volume yang lebih besar lagi karena dendam. Sayangnya juga salah posisi lagi, tambah kecewa, depresi. Akhirnya cut loss lagi. Begitu cut loss, ternyata harga berbalik kea rah transaksi kita sebelumnya, emosinya tumbuh  lagi, ambil posisi baru. Setelah ambil posisi harga malah diam. Ditunggu sampai  esok hari, rela tidak  tidur dengan harap-harap cemas. Begitu ditinggal ke belakang buang air kecil, balik lagi  menatap grafik, equity  sudah menjadi  $ 0.10. Ya, ternyata MC!” jawab saya asal saja, sambil mengenang masa lalu.

“Hahahahaa…! Sama kalau begitu!” kata Kakek Green Heart kemudian. “Iya, saat itu betapa kecewa dan menyesal. Kemudian berusaha mencari dana pengganti untuk modal lagi. Setelah bersusah payah akhirnya mendapatkan modal juga dan deposit, beberapa hari kemudian terulang lagi juga, MC. Saat itu saya terlalu banyak transaksi yang ‘tidak jelas’.  Locking sana-sini, mulanya sih step lock 30 pip, eh ya koq lama-lama mengembang juga locknya, bahkan sampai diatas 100 pip. Harga naik turun, keduanya minus, begitu ada kesempatan membuka lock. Eh ya koq, malah bablas, habis margin saya.  Yang saya anggap kesempatan ternyata itu membuka pintu neraka hahahahahaa…! Begitulah Nak Ninjaa, kalau trading bukan dengan cara trader professional . “  lanjut kakek Green dengan diiringi ngakak juga mengelus-elus kepala.

“Hahahaha...! Trader pemula memang memiliki kecenderungan untuk menempatkan mentalitas penjudi daripada seorang profesional. Ini masalah besar, Kek!” kata saya kemudian.

“Ya, Nak Ninjaa. Maka kita perlu kampanyekan hal ini. Kita jelaskan kepada mereka tentang bahayanya karakteristik penjudi yang dimiliki seorang trader. Bukankah kamu tahu karakteristik penjudi, Nak Ninjaa?” tanya Kakek Green Heart kemudian.

“Ya, kita tahu karakteristik  penjudi itu seperti apa.  Penjudi adalah pecandu, mereka adalah orang-orang yang melakukan hal yang sama berulang hanya untuk mendapatkan euforia yang tinggi.  Penjudi memikirkan perjalanan ke kasino sebagai peristiwa non-profesional. Mereka melihatnya sebagai hobi, atau sebagai sesuatu yang berhubungan dengan waktu luang mereka dengan biaya yang tinggi. Sayangnya, "hobi" ini sering berubah menjadi kecanduan. Penjudi menjadi kecanduan "harapan" dari perjudian, ini menjadi sebab mengapa mereka tetap kalah dan tidak mengubah kebiasaan mereka, karena mereka menaruh uang lebih dan lebih untuk kecanduan judi mereka, bahkan kadang-kadang dana hasil kredit sekali pun dilakukan. Penjudi percaya bahwa mereka selalu yakin dengan istilah "satu lagi" dari jackpot besar berikutnya atau kartu beruntung berikutnya, sehingga mereka terus membuang lebih banyak uang di atas meja. Pada kenyataannya, bahwa itu semua akan sia-sia pada akhirnya. Mereka berpikir bahwa mereka bisa segera miliki kembali yang telah hilang. Atau menginginkan hasil yang lebih banyak lagi. Namun apa yang terjadi, biasanya mereka justru kehilangan lebih banyak lagi. Kalaupun mujur, itu hanyalah keberuntungan. Sisanya adalah bom waktu yang dapat meledakkan kantong keuangannya hahahahahhaaa….!” Jawab saya terlontar begitu saja.

“Eh, Ninjaa… kamu mantan penjudi ya? Hafal benar watak seorang penjudi wekekekekeke…!” kata kakek tiba-tiba menyerobot keseriusanku berfikir.

“Hahahahaha… Tidak juga. Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol dengan  mantan penjudi yang  kini menjadi trader, kebetulan saya kenal baik. Dia itu Pak Broto,“ jawabku ikut ngakak juga mendengar komentar si Kakek. “Nah, jawabanku itu saya dapatkan dari pernyataan-pernyataan dia tentang penjudi. Jadi saya pikir, itu mendekati kebenaran. Soalnya, mas Broto menjadi penjudi sudah sejak masih muda sampai berumur 40 tahun, dari taruhan kecil-kecilan; main gaple, kartu remi, ceki sampai taruhan yang besar hahahahaa…! Kemudian, Pak Broto berhenti berjudi dan beralih trading. Kalau dihitung, Pak Broto sudah menjadi trader selama 3 tahun ini. Namun berdasarkan kisahnya, setelah 3 tahun baru bisa melakukan WD.  Itu pun separuh dari modalnya yang di WD. Malah satu tahun terakhir, floating-floating melulu dan rajin deposit…!”

“Mengapa bisa begitu? Trading 3 tahun tidak pernah merasakan WD profit?” tanya Kakek Green Heart tak mengerti.

“Ya, begitulah… Pak Broto memiliki usaha konvensional, mungkin kalau tidak  demikian ya sudah tidak bisa deposit, “kata saya  menjelaskan.

“Wah, trading forex bukan tempat yang cocok buat dia…! Atau apakah  karena  pengaruh lama menjadi seorang penjudi?”  tanya si kakek lagi.

“Hal itu sudah saya tanyakan Kek, kemudian pak Broto menjawab dengan panjang lebar, ‘Saya bertahun-tahun melakukan kesalahan fatal. Mental judi masuk dalam dunia trading,  meski  saya telah berhenti menjadi seorang penjudi. Tidak terasa, saya memperlakukan perdagangan  forex seperti penjudi.  Saya dan mungkin banyak trader menjadi kecanduan pada perasaan "harapan"  menjadi kaya atau bahwa "satu kesempatan" berikutnya adalah benar dan akan menjadi keberuntungan saya. Keinginan harus selalu  menang dan kecanduan inilah yang memompa taruhan dengan tanpa  ada rencana manajemen uang, masuk dalam perdagangan tanpa alasan yang baik, tujuan hanya mengejar pasar. Entahlah, mengapa saya baru menyadari setelah saya benar-benar terpuruk. Sekarang di akun pun tersisa hanya $40 Padahal danaku selama trading sudah masuk $20.000,- ‘ Begitu ceritanya beberapa waktu yang lalu kepada saya, Kek, “kata saya mengutip kata-kata pak Broto.

Kakek Green Heart manggut-manggut mendengarkan cerita saya, kemudian berkata lagi, “Oh, ternyata masih ada trader yang memperlakukan pasar seperti kasino. Ketika mereka kehilangan uang, mereka berpikir tentang cara cepat untuk "membuat kembali, mereka masuk ke dalam dunia yang sakit dengan over-perdagangan dan over-memanfaatkan margin mereka. Trading dititikberatkan pada keserakahan dan harapan, sementara mereka mengabaikan realitas risiko yang terlibat pada setiap perdagangan. Berfikirlah realitis dalam bertrading! Perlakukan seperti sebuah bisnis.

Seseorang  perlu bersabar dan memiliki harapan yang realistis tentang Pasar Forex. Yang benar adalah bahwa Forex adalah pasar yang sulit,  kecuali mereka  bekerja cerdas dan sabar. Mereka  tidak akan mencapai hasil yang konsisten jika  bersabar saja tidak bisa. Untuk  memperlakukan trading Forex sebagai bisnis dibutuhkan kesabaran. Untuk menjadi seorang trader profesional pun harus sabar beberapa waktu. Langkah awalnya adalah investasi  waktu buat belajar, trading di akun demo. Kemudian melangkah ke  akun real. Jika sudah berhasil di akun demo, masuk tahap berikutnya; akun real dengan modal yang tidak perlu banyak.  Nah, kalau di akun demo saja belum profit,  ya jangan di akun real,  ini namanya sabar....! Namun, kebanyakan trader pemula  tidak melakukan  tahap-tahap ini, akhirnya sudah bisa ditebak; loss dan loss.

Jangan menetapkan tujuan tidak realistis. Ini bisnis koq, bukan perjudian. Jika memaksakan diri menetapkan tujuan tidak realistis, hanya akan menimbulkan frustrasi ketika menyadari ternyata tidak bisa untuk mencapainya”

Hmm…..  Saya cuma bisa  termenung. Dalam hati bertanya-tanya, “Adakah pola pikir penjudi merasuki cara trading saya?  Ya Tuhan, hindarkanlah hamba-Mu  dari watak seorang penjudi. Aamiin.”

Akhirnya, usai sudah pembicaraan saya dengan kakek Green Heart sore itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar